Mengenali Sosok Manusia Nomor Satu Di Dunia

Wahai Lelaki yang Wajahnya Bercahaya, betapa indahnya parasmu. Kala itu engkau mengenakan pakaian berwarna merah pada suatu malam yang diterangi bulan purnama. Engkau bahkan lebih indah daripada bulan purnama itu sendiri.

07948706

Rambutmu cenderung bergelombang, terurai hampir mencapai bahu. Kulitmu putih kemerah-merahan. Alismu tebal dan di antara keduanya nampak urat darah halus yang berdenyut apabila sedang emosi atau bergairah. Bola matamu hitam dengan bulu mata yang panjang. Hidungmu mancung dan mengkilap apabila terkena cahaya matahari. Gigimu putih cemerlang dan agak renggang.
Perawakanmu sedang; tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek; tidak terlalu gemuk dan juga tidak kurus. Pundakmu bagus dan kokoh bagaikan dicor perlak. Apabila berjalan badanmu condong ke depan dan lebih sering melihat ke bawah daripada ke atas. Apabila bertemu orang lain, engkau menyapanya terlebih dahulu dengan memberi pandangan penuh perhatian dan menyejukkan.
Wahai Lelaki yang Menyukai Warna Putih, tidak tampak keangkuhan sedikitpun dalam dirimu. Engkau berpakaian begitu sederhana, tidak jarang kau tambal bajumu yang sudah sobek. Namun apa yang ada di belakang punggungmu itu? Rupanya bekas pelepah kurma tempatmu tidur semalam masih membekas. Tapi mengapa, Wahai Kekasih Allah? Padahal seandainya kau minta, pasti Allah kabulkan untukmu. Namun kau tetap lebih memilih akhirat daripada kenikmatan dunia yang fana.
Duhai yang Hatinya Bercahaya, apakah yang ada dalam pikiranmu? Kala itu engkau sedang tersungkur bersujud di hadapan Rabbmu, seketika kaum kafir Quraisy menaruh kotoran kambing di antara kedua bahumu. Engkau tetap bersujud hingga putrimu tercinta membersihkannya sembari meneteskan air mata.
Wahai Lelaki yang Berhati Sekukuh Karang, apakah yang menguatkanmu? Engkau ditinggalkan ayahmu saat masih dalam kandungan. Ketika kau berusia di kala anak masih manja-manjanya, Ibumu meninggal dunia. Kemudian kau diasuh oleh kakekmu, namun ia wafat dua tahun setelahnya. Tinggallah kau bersama pamanmu yang senantiasa melindungimu dan bersama-sama dalam perjuanganmu, sehingga perlahan-lahan kau bisa melupakan kesedihanmu. Namun, seorang paman yang paling dekat denganmu pun, tidak pernah mau mengucapkan dua kalimat syahadat hingga detik terakhir kehidupannya.
Wahai Pemimpin Umat, apakah yang ada dalam harapanmu? Ketika menjelang akhir kehidupanmu, saat itu engkau menggerakkan kedua bibirmu sebanyak dua kali. Kemudian Ali meletakkan telinganya dekat denganmu, seraya engkau berkata: Umatku, umatku. Engkau begitu mencintai umatmu hingga detik terakhir kehidupanmu.
Maka bagaimana apabila kini Engkau datang mengunjungi rumah salah seorang umatmu? Akankah ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian terbaik yang telah kau ajarkan? Akankah ia panik mencari-cari Al-Quran yang jarang ia baca dan membersihkannya dari debu? Ataukah ia ganti poster-poster idolanya dengan pajangan kaligrafi berukir nama Allah dan namamu? Akankah engkau mengenali mereka sebagai umatmu, Wahai Rasulullah?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s