Sepotong Memori dengan Bapak

Ayah, apa kau ingat?

Ketika aku bersembunyi di balik lemari untuk memberi kejutan setiba kau di rumah. Konyolnya, pernah ketika suara motormu sudah terdengar, saat itu aku baru selesai mandi. Langsung aku terburu-buru bersembunyi di balik selimut, padahal aku belum memakai sehelai pun baju. Kau hanya meringis melihat kelakuanku.

Ketika aku masuk ke dalam sarungmu dan membayangkan seolah aku pemain F1, sementara kau sedang menonton F1 di pagi yang bersahaja. Di pagi itu pula aku mengganggumu saat kau sedang senam. Aku bergelantungan di kakimu, menaiki punggungmu, dan memeluk kakimu.

Ketika kau membopongku bersama selimutku saat aku tertidur lelap di sembarang tempat. Ayah, aku setengah sadar, kau mengelus kepalaku lantas mematikan lampu dan menutup pintu.

Ketika aku, kakak, dan kau tengah membahas soal menabung untuk membeli mobil. Serta merta dengan polosnya aku merogok saku di balik celanaku, dan ku angkat tinggi-tinggi beberapa receh uang; 200, 200, 100. Ternyata kalian tertawa renyah akan kepolosanku. Padahal aku tak begitu mengerti apa yang terjadi.

Namun, kebersamaan kita sempat terhenti selama 2 tahun.

Ayah, seandainya saat itu aku sudah mengerti. Sayangnya, aku tak begitu mengerti. Tiba-tiba aku dibangunkan jam 10 malam, dan di rumahku sudah ada saudara-saudaraku. Mereka mengajakku untuk pergi menemuimu.

Kenapa semalam ini? Aku masih ngantuk. Kenapa gak besok aja?

Perjalanan lancar, karena saat itu malam jalanan cukup sepi. Tibalah aku di ruangan berlorong-lorong dengan manusia-manusia berwajah nelangsa. Aku berjalan cukup panjang di lorong itu dan akhirnya aku disuruh berhenti pada suatu ruangan.

Ayah, kaukah itu? Janggut dan kumismu belum sempat dicukur. Hendak apakah kau memanggilku dan kakakku semalam ini? Sontak aku mendekatimu. Eh? Aku melihat ada pemandangan yang tidak biasa. Tabung gas oksigen dengan selang yang menyumbat hidungmu. Ayah, aku di sini. Kenapa tatapanmu begitu kosong dan mengarah ke langit-langit? Aku mencium tanganmu pun, tanganmu tidak bertenaga. Kau tidak berkata sepatah kata pun, hanya terbaring lemah dan tampaknya kau cegukan.

Aku hanya menatap iba kakakku yang hampir menangis. Entah aku harus berbuat apa. Entah apa yang ada di perasaanku dan pikiranku.

Aku dibawa keluar ruangan dan membuat hamparan, lantas aku disuruh tidur. Tapi kelihatannya kakakku tidak bisa tidur dan kembali lagi ke dalam ruangan untuk mengaji. Aku tetap diam di situ, tertidur menatap langit berwarna hitam kelam dan orang-orang yang berlalu lalang di bawah pohon rindang. Angin malam menusuk tulangku, lantas ku peluk selimutku erat-erat, mencoba untuk tertidur dengan menyimpan beberapa tanda tanya.

Pukul 12 malam.

Aku disuruh masuk ke dalam ruangan. Aku sedikit lupa apa yang terjadi setelah itu. Karena kejadian itu terjadi saat aku masih berumur 9 tahun. Aku melihat jejak rumput yang sangat lemah – yang baru kini aku tahu bahwa benda itu adalah elektrokardiografi.

“Masih ada, sedikit lagi.” Begitulah yang dikatakan dokter.

Keajaiban? Ayolah, mungkin saja ada keajaiban.

Advertisements

2 thoughts on “Sepotong Memori dengan Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s